YUK #TUMPUK DITENGAH PIRING KOTOR KITA SETELAH MAKAN
Ini adalah sebuah social movement yang dipopulerkan melalui media sosial oleh akun @edwardsuhadi. Sebetulnya metode #TumpukDiTengah ini bukan hal yang baru. Biasanya nih kalau kita di rumah atau kalau Anda kebetulan sering rewang alias membantu tetangga yang punya hajatan biasanya akan melakukan ini agar mudah membawa piring-piring kotor ke tempat cucian.
Prinsipnya sederhana, saat kita makan kita pasti akan meninggalkan piring, gelas, sendok garpu, dll dalam keadaan kotor. Apalagi kalau kita makan beramai-ramai atau dengan banyak varian menu, tentu peralatan makan kotor kita akan makin banyak. Nah seusai makan, peralatan itu bukan ditinggalkan begitu saja dalam kondisi berserakan melainkan kita tumpuk. Paling bawah adalah peralatan makan yang paling besar atau lebar diikuti peralatan lainnya. Kotoran dan sisa makanan dibersihkan dari tiap peralatan makan dengan sendok atau garpu dan ditaruh di bagian paling atas. Kalau kebetulan peralatan makannya banyak tidak masalah Anda membuat dua atau tiga tumpukan piring, disesuaikan dengan kondisi, pokoknya tidak ditinggalkan berserakan.
Apa sih gunanya melakukan ini?
Tujuan utamanya adalah untuk membantu pelayan di tempat makan agar memudahkan pekerjaan mereka. Sehingga ketika mereka beres-beres mereka tinggal mengangkat piring kotor. Karena sampah sudah terakumulasi di atas maka mereka tinggal membuangnya tanpa harus membersihkan bagian per bagian.
Ini kalau dilakukan di rumah juga akan membantu bagi Ibu, istri, atau asisten rumah tangga kita agar kerja mereka juga menjadi lebih ringkas dan efisien sekali baik dari segi waktu, tenaga, maupun teknis pekerjaan. Kedua, dari segi kita sendiri, tentu akan lebih senang melihat sesuatu yang rapi daripada berantakan bukan?
Loh itu kan tugasnya pramusaji? Mereka kan dibayar untuk itu?
Begini, kita seringkali lupa dan ada sebuah konsep yang bisa dibilang salah namun sudah terlanjur mengakar dalam budaya masyarakat kita. Sebetulnya di banyak rumah makan terutama rumah makan cepat saji konsepnya adalah kita melayani diri kita sendiri. Tentu kalau Anda perhatikan di restauran cepat saji ada tempat khusus untuk membuang sampah makanan dan itu ada di arena yang bisa dijangkau oleh pengunjung. Nah di luar negeri tak ada cerita bahwa yang membereskan meja dan membuang sampah tersisa adalah pelayannya. Setelah makan konsumen harus membuang makanannya sendiri.
Ada sebuah waralaba makanan luar bernama The Halal Guys yang membuka cabang di Senayan City yang sudah tegas menerapkan ini. Di sana setelah Anda selesai semua kotoran termasuk nampan menjadi tugas Anda untuk menumpuknya di tempat yang telah disediakan. Dan ternyata bisa lho pengunjungnya menerapkan itu. Meja pengunjung pun bersih dan orang yang menanti tempat duduk kosong tidak menunggu terlalu lama karena mejanya masih harus dibersihkan misalnya.
Lagipula kalau kita bisa membantu mempermudah pekerjaan orang lain kenapa tidak? Karena basic pekerjaan pramusaji adalah menyajikan makanan, kecuali jika Anda datang ke tempat makan yang menarik service chargeyang nilainya kadang lebih besar dari PPn itu. Tapi biasanya tempat yang menarik chargepelayanan ini adalah tempat makan yang harganya pun premium. Itupun tak ada salahnya Anda tetap membantu menerapkan gerakan #TumpukDiTengah ini kala menikmati sajian di restauran premium.
Menerapkan ini mungkin susah-susah gampang karena pasti akan ada yang komen "ngapain sih diberesin itu kan tugas pelayan?". Atau mungkin pengunjung lain akan memandang kita dari atas ke bawah dan memberi cap "dih nih orang jiwa (sorry) babu sejati ya". Balik lagi ingat prinsip awal, apa salahnya kita membantu memudahkan pekerjaan orang lain yang kebetulan memang sudah kewajiban kita juga untuk itu?
Mental merasa sudah membayar dan berhak ngapain aja itu kadang menyesatkan. Kalau Anda enggan membantu membuang, setidaknya bantulah mereka dengan melakukan gerakan #TumpukDiTengah ini.
dari rahmatika. Seword. Com

No comments:
Post a Comment