RUMAH SAKIT PERTAMA DI KOTA DEPOK
Tanggal 11 Oktober 1945, dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia, Dolf Jonathans (85) ingat betul saat terjadi penyerangan oleh para pemuda terhadap keturunan para budak Cornelis Chastelein yang dianggap pro Belanda.
Tanggal 11 Oktober 1945, dua bulan setelah kemerdekaan Indonesia, Dolf Jonathans (85) ingat betul saat terjadi penyerangan oleh para pemuda terhadap keturunan para budak Cornelis Chastelein yang dianggap pro Belanda.
Para bapak dan anak laki-laki di atas 13 tahun
dibawa ke Bogor, sedangkan para perempuan dan anak-anak disekap di
gedung pemerintahan kotapraja. Gedung itulah yang hingga kini menjadi RS
Harapan, Kota Depok.
"Saya
waktu itu berusia 13 tahun. Saya ingat waktu kami dibawa pergi ke Bogor
naik kereta api. Sementara ibu-ibu dan anak-anak kecil dimasukkan di
kantor pemerintahan. Tepat saat kekacauan itu terjadi, datanglah tentara
Gurkha (kesatuan tentara Inggris) bersama seorang wartawan perang surat
kabar The Times, Johan Fabricius.
Setelah terjadi kontak senjata, para perempuan dan anak-anak itu
akhirnya bisa dievakuasi dan diselamatkan," kata Dolf saat ditemui Kompas di Depok, Jawa Barat, Kamis (5/1).
Dolf
mengatakan, sebelumnya tentara Sekutu yang hendak menuju Jakarta dari
Bogor tak punya rencana sama sekali mampir di Depok. Namun, Fabricius
yang mendengar telah terjadi kekacauan di Depok meminta para tentara itu
untuk mampir. Saat itulah, tentara Gurkha yang jumlahnya sedikit
bertempur dengan para pemuda Indonesia.
"Saat itu sebenarnya kami
bukan tidak mendukung perjuangan kemerdekaan RI. Tetapi mungkin karena
kami sudah hidup nyaman dengan segala fasilitas dan tanah yang diberikan
oleh Chastelein sehingga tidak begitu paham. Padahal, kami rata-rata
orang Indonesia, hanya ada sedikit yang campuran Belanda," tutur Dolf.
Apa yang diceritakan Dolf itu juga tercantum dalam buku Jejak-jejak Masa Lalu Depok: Warisan Cornelis Chastelein kepada Para Budaknya yang Dibebaskan
karya Jan Karel Kwisthout. Chastelein adalah mantan pegawai organisasi
dagang Belanda VOC dan kemudian menjadi tuan tanah di Depok. Ia
mendatangkan budak dari berbagai suku di Indonesia untuk menggarap
pertanian di tanah-tanah miliknya.
Budak-budaknya telah dibebaskan
dan keturunannya kini dikenal dengan 12 klan. Merekalah yang mewarisi
tanah setelah Chastelein meninggal pada 28 Juni 1714.
Disebutkan
dalam buku itu, desa itu (tempat komunitas Depok tinggal) terlihat mati
dan diliputi kesunyian. Di kantor kotapraja, mereka menemukan para
wanita dan anak-anak Depok yang ditawan. Di antara mereka terdapat
beberapa wanita kulit putih, tetapi sebagian besar berkulit coklat.
Mereka
semua kurus, kelelahan, dan terluka. Mereka melaporkan bahwa telah
ditemukan oleh pembantu polisi Indonesia di hutan, yang kemudian menahan
mereka di kantor kotapraja.
Fabricius menulis dalam laporannya
bagaimana komunitas Depok itu telah membuat marah para pemuda karena tak
banyak dari mereka yang memihak Republik Indonesia. Akibatnya,
terjadilah perampasan, perampokan, dan penyiksaan terhadap komunitas
itu.
Fabricius bersama pasukan Gurkha tiba tepat waktu sehingga dapat
menyelamatkan perempuan dan anak-anak untuk disatukan kembali dengan
keluarga mereka di tempat pengungsian di wilayah Bogor.
Daerah otonom
Gedung
yang menjadi saksi penyekapan itu masih berdiri hingga kini. Saat
kejadian yang dikenal dengan sebutan Gedoran Depok itu terjadi, gedung
itu berfungsi sebagai kantor kotapraja dengan kepala komunitas yang
disebut residen. Selain residen, ada pula jajaran pengurus yang
bertanggung jawab terhadap berbagai bidang, seperti pengairan,
pertanian, cukai, dan kesehatan.
Dapat dikatakan, komunitas Depok
waktu itu hidup makmur. Keistimewaan ini kemudian menimbulkan
ketimpangan dengan warga di luar komunitas yang banyak tak memiliki
tanah dan hidup dalam kesulitan.
"Sejak tahun 1914, kami
(keturunan budak Chastelein) memang membentuk semacam pemerintahan yang
mengurusi kehidupan warga. Saat Belanda masih di Indonesia, komunitas
Depok memang diberi wilayah otonom sehingga dapat mengurus segala
sesuatunya sendiri," tutur Dolf, yang adalah keponakan Residen Depok
terakhir, YM Jonathans.
Jan Karel Kwisthout menyebut, ketika
akhirnya Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 1949, status
kebebasan Depok ini pun tamat. Pemerintah RI pada 4 Agustus 1952
kemudian mencabut secara resmi status Depok yang berdiri sendiri.
Tanah-tanah diambil alih oleh negara, hanya beberapa persil tanah dan
sejumlah bangunan dikembalikan dan dikelola Lembaga Cornelis
Chastelein, termasuk gedung kotapraja itu.
Setelah itu, sebagian
warga komunitas Depok mengungsi ke luar negeri, kebanyakan ke Belanda.
Sisanya tetap tinggal di Depok dan berketurunan hingga hari ini. Saat
ini, beberapa rumah tua masih bisa ditemui di Jalan Pemuda, Depok Lama,
termasuk rumah Residen Depok yang berada tepat di seberang RS Harapan
Depok.
Rumah itu masih ditinggali oleh keturunan Residen Depok,
dan bangunannya tetap dipertahankan keasliannya. Banyak bangunan lain
sudah berganti kepemilikan dan berubah bentuk menjadi bangunan baru.
Ferdy
Jonathans dari Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) menceritakan,
setelah situasi kembali damai, sekitar tahun 1960 terjadi wabah
tuberkulosis (TBC) di Depok.
Balai pengobatan
Kemudian
dibentuklah sebuah organisasi bernama Pelayanan Kesehatan Kaum Awam
Depok (Pelkad) yang selanjutnya mendirikan balai pengobatan untuk
melayani warga yang terkena wabah tersebut.
"Saat itu belum ada
rumah sakit di Depok. Kalau mau ke rumah sakit harus ke Jakarta. Di sini
yang ada ya semacam puskesmas yang dibuat oleh pemerintah, tetapi tidak
banyak," kenang Dolf.
Balai Pengobatan terus berjalan hingga
tahun 1965. Kemudian, Pelkad bubar dan berganti menjadi Yayasan
Pelayanan Kristen (Pelkris). Balai pengobatan itu mulai berkembang
menjadi rumah sakit.
Tahun 1968 ketika terjadi kecelakaan kereta
api di Ratu Jaya, Depok, yang menewaskan 116 orang, RS ini mulai dikenal
karena menampung para korban. Saat itu, kereta listrik dari Stasiun
Depok Lama bertabrakan dengan KRL yang berangkat dari Stasiun Citayam.
Setelah
kejadian itu, Depok yang saat itu masih merupakan kecamatan di
Kabupaten Bogor mulai terbuka. Akses jalan dari Lenteng Agung, Jakarta,
mulai dibuat, dan perumahan nasional dibangun. RS baru pun dibuka, yaitu
RS Bhakti Yudha di Pancoran Mas, pada tahun 1980, yang pada awalnya
merupakan klinik bersalin.
Kemudian, setelah Pelkris bubar, tahun
1990 Yayasan Kesehatan Harapan mulai mengambil alih dan berdirilah RS
Harapan Depok hingga kini. RS Harapan yang terletak di Jalan Pemuda
(dahulu Kerk Weg) melayani pasien umum dan juga terbuka bagi peserta
BPJS.
Ferdy mengatakan, meski dimiliki YLCC, operasional RS
Harapan sepenuhnya dikelola oleh Yayasan Kesehatan Harapan di bawah
naungan Persatuan Gereja-gereja Indonesia (PGI). Namun, YLCC berharap,
ke depan RS Harapan bisa berkembang lebih pesat lagi sehingga dapat
lebih banyak menampung pasien. Saat ini RS Harapan termasuk RS tipe D
dengan jumlah tempat tidur 100 unit.
Bangunan yang digunakan,
yaitu bangunan utama, masih merupakan bangunan asli kantor pemerintahan
saat itu, dengan ciri khas jendela-jendela dan pintu-pintu berukuran
besar. Namun, di sekelilingnya kini dibangun bangunan tambahan untuk
menampung para pasien sehingga bangunan utama tidak lagi terlihat dari
luar.
"Luasan tanah di RS ini memang terbatas, sekitar 3.000 meter
persegi. Untuk menjadi RS yang lebih besar dibutuhkan luasan minimal
5.000 meter persegi. Tetapi, kami sedang mengupayakan agar RS ini bisa
bertumbuh lebih besar lagi sehingga bisa menjadi pilihan di tengah
banyaknya RS saat ini," katanya.
di kutip dari : Versi cetak artikel ini
terbit di harian Kompas edisi 9 Januari 2017, di halaman 27 dengan judul
"Masa Lalu Pilu RS Pertama di Depok".
oleh Amanda Putri Nugrahanti
gambar oleh Zitzakariya






No comments:
Post a Comment